Semangat Bekerja, cari nafkah hidupi keluarga

bmt-alhuda-semangat-bekerja

 

Dalam ajaran Islam, seperti yang sering kami ulang pada setiap artikel yang kami tulis, bahwa ajaran Islam ini sempurna sampai sampai untuk urusan BAB (Buang Air besar) saja ada ajaran dan tuntunannya, apa lagi tentang aktifitas seorang muslim dalam bekerja.

Mencari Nafkah Dalam Islam
Dalam Islam kita di perintahkan untuk mencari nafkah, baik untuk kita pribadi maupun untuk nafkah orang yang menjadi tanggungan kita, seperti dalam Hadits tentang perintah bekerja riwayat Abu Dawud berikut.

كَفَى بِالْمَرْءِ إِثْمًا أَنْ يُضَيِّعَ مَنْ يَقُوتُ
Artinya: “Seseorang cukup dikatakan berdosa jika ia melalaikan orang yang wajib ia nafkahi.” [HR. Abu Daud]

ابْدَأْ بِنَفْسِكَ فَتَصَدَّقْ عَلَيْهَا ، فَإِنْ فَضَلَ شَيْءٌ فَلِأَهْلِكَ ، فَإِنْ فَضَلَ عَنْ أَهْلِكَ شَيْءٌ فَلِذِي قَرَابَتِكَ ، فَإِنْ فَضَلَ عَنْ ذِي قَرَابَتِكَ شَيْءٌ فَهَكَذَا وَهَكَذَا ، بَيْنَ يَدَيْكَ ، وَعَنْ يَمِينِكَ ، وَعَنْ شِمَالِكَ
Artinya: “Mulailah dari dirimu sendiri. Sedekahkanlah untuk dirimu. Selebihnya dari itu untuk keluargamu (anak dan istrimu). Selebihnya lagi dari itu untuk kerabat dekat mu. Selebihnya lagi dari itu untuk tujuan ini dan itu yang ada di hadapanmu, yang ada di kanan dan kirimu.” [HR. Muslim]

Wajibnya Mencari Nafkah
Dalam dua hadits di atas, kita di wajibkan untuk mencari nafkah, kalau tidak maka kita akan berdosa, lalu pada hadits kedua di katakan nafkah itu wajib atas diri sendiri, lalu keluarga yang menjadi tanggungan kita baik anak, istri maupun orang tua, lalu kerabat dekat dan tetangga, semua di hitung sebagi sedekah.

Pengertian mencari nafkah dalam hadits tersebut adalah kita di perintahkan untuk bekerja, karena mustahil mendapatkan nafkah tidak dengan bekerja, dan berikut ini kami tuliskan hadits yang berhubungan dengan bekerja keras mencari nafkah.

Hadits Tentang Kerja Keras dan Penjelasannya

Home » Mutiara Hadist » Hadits Tentang Kerja Keras dan Mencari Nafkah
Hadits Tentang Kerja Keras dan Mencari Nafkah

√ Kumpulan hadits tentang kerja keras beserta arti dan keutamaan-nya juga kewajiban seorang dalam mencari nafkah baik untuk diri sendiri maupun untuk tanggungannya, simak ulasannya dalam artikel ini.

Dalam ajaran Islam, seperti yang sering kami ulang pada setiap artikel yang kami tulis, bahwa ajaran Islam ini sempurna sampai sampai untuk urusan BAB (Buang Air besar) saja ada ajaran dan tuntunannya, apa lagi tentang aktifitas seorang muslim dalam bekerja.

 

semangat-bekerja

Dalam Islam kita di perintahkan untuk mencari nafkah, baik untuk kita pribadi maupun untuk nafkah orang yang menjadi tanggungan kita, seperti dalam Hadits tentang perintah bekerja riwayat Abu Dawud berikut.

كَفَى بِالْمَرْءِ إِثْمًا أَنْ يُضَيِّعَ مَنْ يَقُوتُ
Artinya: “Seseorang cukup dikatakan berdosa jika ia melalaikan orang yang wajib ia nafkahi.” [HR. Abu Daud]

ابْدَأْ بِنَفْسِكَ فَتَصَدَّقْ عَلَيْهَا ، فَإِنْ فَضَلَ شَيْءٌ فَلِأَهْلِكَ ، فَإِنْ فَضَلَ عَنْ أَهْلِكَ شَيْءٌ فَلِذِي قَرَابَتِكَ ، فَإِنْ فَضَلَ عَنْ ذِي قَرَابَتِكَ شَيْءٌ فَهَكَذَا وَهَكَذَا ، بَيْنَ يَدَيْكَ ، وَعَنْ يَمِينِكَ ، وَعَنْ شِمَالِكَ
Artinya: “Mulailah dari dirimu sendiri. Sedekahkanlah untuk dirimu. Selebihnya dari itu untuk keluargamu (anak dan istrimu). Selebihnya lagi dari itu untuk kerabat dekat mu. Selebihnya lagi dari itu untuk tujuan ini dan itu yang ada di hadapanmu, yang ada di kanan dan kirimu.” [HR. Muslim]

Wajibnya Mencari Nafkah
Dalam dua hadits di atas, kita di wajibkan untuk mencari nafkah, kalau tidak maka kita akan berdosa, lalu pada hadits kedua di katakan nafkah itu wajib atas diri sendiri, lalu keluarga yang menjadi tanggungan kita baik anak, istri maupun orang tua, lalu kerabat dekat dan tetangga, semua di hitung sebagi sedekah.

Pengertian mencari nafkah dalam hadits tersebut adalah kita di perintahkan untuk bekerja, karena mustahil mendapatkan nafkah tidak dengan bekerja, dan berikut ini kami tuliskan hadits yang berhubungan dengan bekerja keras mencari nafkah.

Hadits Tentang Kerja Keras dan Penjelasannya
hadits tentang kerja keras

Hadits Tentang Pekerjaan Yang Paling Utama
أَىُّ الْكَسْبِ أَطْيَبُ قَالَ عَمَلُ الرَّجُلِ بِيَدِهِ وَكُلُّ بَيْعٍ مَبْرُورٍ
“Wahai Rasulullah, pekerjaan apakah yang paling baik?” Beliau bersabda, “Pekerjaan seorang laki-laki dengan tangannya sendiri dan setiap jual beli yang mabrur (diberkahi).” [HR. Ahmad]

Penjelasan Hadits

Hadits ini adalah sebuah pertanyaan dari Sahabat kepada Nabi tentang pekerjaan apa yang paling baik, maka rasull menjawab dengan pekerjaan yang di lakukan oleh kedua tangannya sendiri dan perdagangan yang di lakukan sesuai syariat Islam yang di berkahi.

Pertama adalah tentang keutamaan bekerja yang dilakukan oleh kita, maksudnya adalah semua pekerjaan yang halal yang di lakukan oleh tangan kita sendiri maka itu adalah pekerjaan yang baik.

Kedua berdagang atau jual beli yang di lakukan sesuai dengan syariat Islam maka akan di berkahi, dan ini juga merupakan pekerjaan yang baik dan utama.

Perdagangan yang sesuai syariat adalah, berdagang dengan jujur, tidak mengurangi timbangan, tidak ada riba dan ghoror juga di lakukan dengan baik dan ikhlas.

Hadits Tentang Keutamaan Bekerja Keras
مَنْ اَمْسَى كَالًّا مِنْ عَمَلِ يَدَيْهِ اَمْسَى مَغْفُوْرًا لَهُ
Artinya: “Barangsiapa yang di waktu sore merasa capek karena bekerja dengan kedua tangannya dalam mencari nafkah maka di saat itu diampuni dosa baginya.” [HR. Thabrani]

Penjelasan Hadits

Sangat jelas isi dari hadis ini, bahwa keutamaan orang yang bekerja untuk mencari nafkah, maka lelah dan capek yang di rasakan akan mendapatkan ganjaran berupa ampunan dari dosa yang pernah di lakukan-nya.

Ini sesuai seperti dalam hadits riwayat tabrani juga yang berbunyi:

“Sesungguhnya di antara dosa yang tidak bisa ditebus dengan pahala shalat, sedekah atau haji, maka bisa ditebus dengan kesusah-payahan dalam mencari nafkah.” [HR. Thabrani].

Itulah ajaran Islam, setiap apapun yang kita lakukan atau yang kita dapatkan berupa kesengsaraan, dan kita ikhlas menerimanya karena meyakini ini adalah takdir yang sudah di tetapkannya maka kita akan mendapatkan pahala dari Allah.

Hadits Tentang Kerja Keras Dalam Etos Kerja
وَعَنْ اَبِى عَبْدِاللهِ الزُّبَيْرِبنِ العَوَّامِ قَالَ:قَالَ رَسُولُ اللهِ :لأَنْ يَأْخُذَ اََحَدُكُمْ اَحْبُلَهُ ثُمَّ يَاْتِى الْجَبَلَ فَيَاْتِىَ بِحُزْمَةٍ مِنْ حَطَبٍ عَلَى ظَهْرِخِ فَيَبِيْعَهَا فَيَكُفَّ اللهُ بِهَا وَجْهَهُ خَيْرٌلَهُ مِنْ اَنْ يَسْأَلَ النَّاسَ اَعْطَوْهُ اَوْ مَنَعُوْهُ.
Artinya: Dari Abi Abdillah (Zubair) bin Awwam Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah bersabda:

“Sesungguhnya, seorang di antara kalian membawa tali-talinya dan pergi ke bukit untuk mencari kayu bakar yang diletakkan di punggungnya untuk dijual sehingga ia bisa menutup kebutuhannya, adalah lebih baik daripada meminta-minta kepada orang lain, baik mereka memberi atau tidak”. [HR Bukhari].

Penjelasan Hadits

Hadits ini memang menjelaskan tentang keutamaan bekerja keras daripada meminta minta, tapi dalam penjelasan tersebut tersirat tentang bagaimana etos kerja yang harus di tampilkan oleh seorang muslim.

Yaitu bekerja dengan etos kerja yang maksimal agar mendapatkan hasil yang berkah, bukan hasil yang banyak, karena keberkahan adalah tujuan seorang muslim mencari harta.

Lihat bagaimana anjuran Rasulullah dalam bekerja pada hadits tersebut, bahwa mencari kayu bakar dengan pergi ke bukit lalu menaruh di punggungnya untuk di jual, ini menggambarkan etos kerja yang tinggi yang harus di lakukan oleh seorang muslim.

Dalam hadits riwayat Imam Ahmad juga di sebutkan tentang bekerja dengan terampil, yang menunjukan etos kerja seorang muslim yang di sukai oleh Allah kepada hamba-Nya.

“Sesungguhnya Allah menyukai hamba yang bekerja dan terampil. Siapa yang bersusah payah mencari nafkah untuk keluarganya maka ia serupa dengan seorang mujahid di jalan Allah.” [HR Ahmad}

Hadits Tentang Bekerja Dengan Sungguh-Sungguh
إِذَا سَبَّبَ اللهُ لِأَحَدِكُمْ رِزْقًا مِنْ وَجْهٍ فَلَا يَدَعْهُ حَتَّى يَتَغَيَّرَ لَهُ أَوْ يَتَنَكَّرَ لَهُ
Artinya: “Jika Allah memberikan jalan bagi seseorang di antara kamu untuk memperoleh rezeki dari suatu arah, maka janganlah dia meninggalkannya sampai dia berubah atau hilang darinya.” [HR. Ibnu Majah].

Penjelasan Hadits

Hadis ini menjelaskan tentang bekerja dengan sungguh-sungguh, yaitu jangan meninggalkan suatu jalan rezeki atau pekerjaan yang telah Allah tunjukkan sampai dia lakukan dengan sebaik-baiknya, tapi jika sudah di lakukan dengan sungguh sungguh dan hasilnya masih tidak maksimal maka baru kita boleh meninggalkannya.

Ini juga menjelaskan tentang fokus ke satu pekerjaan saja yang dilakukan dengan bersungguh-sungguh, tidak bercabang sehingga pekerjaan yang di lakukan tidak maksimal.

Kumpulan Ayat dan Hadits Tentang Bekerja Keras
Sebagai pelengkap hadits hadits diatas, kami tuliskan juga ayat Al Quran dan hadits yang berkenaan dengan bekerja, berikut diantaranya.

Ayat Al Quran Tentang Bekerja Mencari Nafkah
Berikut ini kami tuliskan beberapa ayat Al Qur’an yang menjelaskan tentang bekerja, kami hanya menuliskan artinya saja,dan untuk bacaan ayatnya silahkan anda buka Al Quran sesuai surat dan ayatnya yang kamituliskan dalam tanda kurung.

♥ ” Dialah yang menjadikan bumi ini mudah bagimu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rizki-Nya. Dan hanya kepada-Nyalah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.” (QS. Al-Mulk : 15)

♥ “Kami telah menjadikan untukmu semua didalam bumi itu sebagai lapangan mengusahakan kehidupan (bekerja) ; Tetapi sedikit sekali diantaramu yang bersyukur.” (QS. A”raf : 10)

♥ ” Apabila telah ditunaikan sholat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya supaya kamu beruntung.” (QS. Al-Jum”ah : 10)

♥ ” … dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah (bekerja); dan orang-orang yang lain lagi berperang di jalan Allah….” (QS. Al-Muzzammil : 20)

♥ “Kami telah membuat waktu siang untuk mengusahakan kehidupan (bekerja).” (QS. Naba” : 11)

 

semangat-bekerja-1

Hadits Tentang Bekerja Mencari Nafkah
Kami akan tuliskan sebagian dalam bacaan arabnya dan sebagian lain hanya kami tuliskan artinya saja, dan hadits di bawah ini adalah pelengkap dari hadits yang sudah kami tulis di atas.

عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ:سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ:لَوْ اَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُونَ عَلَى اللهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ, تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا.
Artinya: Dari Umar Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Kalau kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakkal, maka niscaya Allah akan memberikan kalian rezeki sebagaimana Allah memberi rezeki kepada burung; ia pergi pagi hari dalam keadaan perutnya kosong, lalu pulang pada sore hari dalam keadaan kenyang”. [HR Tirmidzi, no. 2344; Ahmad (I/30); Ibnu Majah, no. 4164]

مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ وَإِنَّ نَبِيَّ اللهِ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلَامُ كَانَ يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ
Artinya: “Tidak ada seseorang yang memakan satu makanan pun yang lebih baik dari makanan hasil usaha tangannya (bekerja) sendiri. Dan sesungguhnya Nabi Allah Daud as. memakan makanan dari hasil usahanya sendiri.” [HR. Bukhari]

إِنَّ مُوْسَى صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ آجَرَ نَفْسَهُ ثَمَانِيَ سِنِيْنَ أَوْ عَشْرًا عَلَى عِفَّةِ فَرْجِهِ وَطَعَامِ بَطْنِهِ
Artinya: “Sesungguhnya Nabi Musa as. mempekerjakan dirinya sebagai buruh selama delapan tahun atau sepuluh tahun untuk menjaga kehormatan dirinya dan untuk mendapatkan makanan (halal) bagi perutnya.” [HR. Ibnu Majah]

مَا كَسَبَ الرَّجُلُ كَسْبًا أَطْيَبَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ وَمَا أَنْفَقَ الرَّجُلُ عَلَى نَفْسِهِ وَأَهْلِهِ وَوَلَدِهِ وَخَادِمِهِ فَهُوَ صَدَقَةٌ
Artinya: “Tidak ada yang lebih baik dari usaha seorang laki-laki kecuali dari hasil tangannya (bekerja) sendiri. Dan apa saja yang dinafkahkan oleh seorang laki-laki kepada diri, istri, anak dan pembantunya adalah sedekah.” [HR. Ibnu Majah]

احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ
Artinya: “Bersemangatlah melakukan hal yang bermanfaat untukmu dan meminta tolonglah pada Allah, serta janganlah engkau malas” [HR. Muslim]

♥ “Sesudah shalat Subuh maka janganlah kamu tidur sehingga kamu tidak lalau dalam mencari rezeki.”[HR. Ath-Thabrani]

♥ “Bangunlah di pagi hari untuk mencari rezeki dan kebutuhanmu. Sesungguhnya pada pagi hari terdapat barakah dan keberuntungan.” [HR. Ath-Thabrani & Al-Bazzar]

♥ “Sesungguhnya Ruhul Qudus membisikkan bahwa jiwa tidak akan wafat sebelum lengkap dan sempurna rezekinya. Karena itulah kamu harus bertakwa kepada Allah dan memperbaiki mata pencaharianmu. Jika datangnya rezeki itu terlambat maka jangan memburunya dengan bermaksiat karena apa yang ada di sisi Allah hanya bisa diraih dengan taat pada-Nya.” [HR Abu Zar dan Al-Hakim]

♥ “Mencari rezeki yang halal adalah wajib apabila sudah melaksanakan ibadah fardhu.” [HR Ath-Thabrani & Al-Baihaqi]

♥ “Sesungguhnya Allah senang melihat hamba-Nya yang bersusah payah dalam mencari rezeki yang halal.” [Ad-Dailami]

♥ “Ya Allah, berkahilah umatku di waktu pagi bagi mereka yang bangun di waktu fajar untuk mencari nafkah.” [HR Ahmad]

♥ “Apabila telah dibukakan bagi seseorang pintu rezeki maka sebaiknya ia melestarikannya.” [Al-Baihaqi].

Hadits dan ayat Al Quran di atas menunjukan kepada kita bahwa bekerja adalah ibadah yang harus di lakukan dengan etos kerja yang tinggi dan juga harus dengan sungguh-sungguh.

jika kita melakukan hal tersebut maka manfaatnya adalah kita akan mendapatkan rezeki yang halal dan mendapatkan pahala juga menghapuskan dosa yang telah kita perbuat.

Demikian kumpulan hadits tentang kerja keras dan kewajiban seorang muslim untuk mencari nafkah yang halal dan berkah, semoga kita selalu dikaruniai pekerjaan dan rezeki yang halal. Wallahu a’lam.

Sumber : https://penaungu.com/hadits-tentang-kerja-keras/