BERSEGERALAH MERAIH RUMAH AKHIRAT

mku-post-kebaikan
mku-post-kebaikan
Oleh
Prof Dr H Rochmat Wahab MPd MA

Kehidupan manusia dewasa ini sangat diwarnai dengan pandangan pragmatis,
hedonistik, materialistik, dan kapitalistik, sehingga mereka sering kali
melupakan pandangan idealis. Banyaknya orang menuhankan atau meng-ilahkan pangkat, harta, gelar, keturunan, dan sebagainya sepenuhnya didasarkan
atas falsafah hidupnya yang menafikan Allah swt, sebagai satu-satunya Dzat
yang harus dipercaya, diyakini, dan ditaati. Yang mereka pikirkan hanya
kehidupan saat ini dan di sini. Kondisi yang demikian sebenarnya sebagai
gambaran manusia jahiliyah moderen. Agar kehidupan ummat Islam tidak
terjebak oleh gaya dan pola hidup yang sangat duniawiyah, maka mereka perlu
diajak untuk kembali ke rujukan utama Islam, yaitu membangun keseimbangan
hidup dunia dan akhirat.

Mari kita renungi salah satu firman Allah swt dalam QS, Al-Qashash, ayat
77, yang artinya : Dan carilah pahala di akhirat dengan menggunakan apa-apa
yang sudah dirizkikan (dikaruniakan) Allah padamu. Sekalipun demikian,
janganlah engkau melalaikan kebahagiaanmu dari urusan keduniaan, serta
berbuat baiklah sebagaimana Allah swt telah berbuat baik kepadamu, dan
janganlah berbuat kerusakan di atas bumi, sesungguhnya Allah swt tidak suka
dengan hambanya yang suka berbuat kerusakan”. Mengapa kita harus
prioritaskan orientasi kepada kehidupan akhirat, karena hidup di akhirat itu
lebaik baik daripada hidup di dunia dan hidup di akhirat itu lebih abadi
daripada hidup di dunia.

Walaupun hidup akhirat itu lebih baik dan abadi daripada hidup di dunia,
namun kehidupan di dunia itu tetap sangat penting. Kehidupan di dunia harus
dijaga dengan sebaik-baiknya. Kehidupan di dunia tidak boleh diabaikan,
sehingga tidak perlu bekerja mencari nafkah. Ingat, bahwa dunia itu
merupakan ladangnya akhirat. Karena itu kita harus tetap menjaga nilai-nilai
akhirat pada setiap beraktivitas dalam kehidupan dunia.
Untuk meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat, kita harus berbuat
kebaikan, sebagaimana Allah swt telah berbuat baik kepada kita. Allah swt
telah menjadikan kita sebagai makhluq yang tersempurna dibandingkan dengan
makhluk-makhluk lain. Demikian juga Allah swt telah memberikan rizqi kepada
kita, baik yang tersebar di daratan dan di lautan, serta memberikan keutamaan
yang tidak ternilai kepada kita, umat manusia. Karena itu kita harus benarbenar mensyukuri atas nikmat yang tidak ternilai itu dengan berbuat apa saja
yang memberikan manfaat bagi manusia dan kesematan lingkungan.
Selain daripada itu untuk kesempurnaan langkah dalam merebut
kebahagiaan dunia dan akhirat, kita harus menjauhkan diri dari berbuat
kerusakan di atas bumi, baik kerusakan terhadap diri sendiri, orang lain,
maupun terhadap lingkungan. Ingat, bahwa Allah swt sangat tidak menyukai di
antara kita yang berbuat kerusakan.

Untuk membuat kehidupan kita terjaga keseimbangannya, maka kita
harus menjaga semangat hidup untuk akhirat seakan-akan kita besuk akan
mati, dan dalam waktu yang sama kita harus memotivasi diri kita dalam
bekerja seakan-akan kita akan hidup selamanya. Situasi dan kondisi semacam
ini mendorong kita untuk aktif dan bersemangat bekerja secara simultan
beririentasi kepada dunia dan akhirat. Hal ini sejalan dengan sabda Rasulullah
saw, yang berbunyi : I’mal li dun-yaaka ka-annaka ta’iisyu abadan, wa’mal li
aakhiratika ka-annaka tamuutu ghadan (HR Imam Ibnu Asyakir), artinya
Bekerjalah untuk mencari keduniaanmu, seolah-olah engkau akan hidup
selama-lamanya, dan bekerjalah untuk akhiratmu, seolah-olah engkau akan
mati esuk hari.

Menyadari akan hal tersebut, kiranya semakin jelas bahwa kehidupan
manusia itu pada hakekatnya tidak statis, melainkan dinamis. Dalam bahwa Ali
Syari’ati, bahwa manusia itu lebih tepat pemaknaannya diturunkan dari kata
bahasa Arab, basyar, yang memiliki makna to become, proses menjadi, bukan
dimaknai sebagai kata bahasa arab al-insa, yang dimaknai to be, yang berati
jadi begitu saja. To become mengisyaratkan bahwa manusia untuk tumbuh dan
berkembang secara sempurna perlu dinamika dan ikhtiar optimal, dari proses
kelahiran sampai ajal tiba.

Akhirnya dapat diperjelas bahwa kita dalam posisi apapun sekarang
seharusnya bersegera taqarrub ilallaah, dengan menjadikan apa yang dimiliki
di dunia ini, baik ilmu, kekayaan, maupun potensi lainnya sebagai instrumen
untuk mempermudah jalan kita kembali kepada Allah swt yang selalu dalam
ridlo-Nya. Semoga.

*Penulis adalah Guru Besar dan Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).